Jumat, 27 November 2009

ILMU PAWANG HUJAN DARI GARIS KETURUNAN


Ilmu ini saya dapatkan dari AYAHANDA TERCINTA H.SLAMET RIYADI dari MBAH JUMAKYAH dari MBAH MUNAH dari MBAH SANTER yang berisikan rangkaian doa yang diajarkan ulama-ulama kita

Sering kali kita merencanakan suatu acara, dengan persiapan yang dilakukan dengan matang jauh jauh hari, tetapi pada saat acara dilaksanakan, acara tersebut berantankan karena pada saat itu turun hujan, sehingga menggangu jalannya acara.
Hujan adalah berkah yang diturunkan oleh Allah dari langit kepada kita, untuk itu kita harus mensyukurinnya.
Memindahkan hujan kesatu tempat yang mana bila kita punya hajat disuatu tempat maka hujan yang akan turun di tempat tersebut dipindahkan ke tempat yang lain yang jauh dari tempat hajatan tersebut, bukan menolak hujan. Hajatan tersebut bisa berupa pernikahan, sunatan, pesta ulang tahun dll
Kami mempunyai kemampuan dengan ijin Allah SWT untuk memindahkan hujan tersebut yang sekiranya akan menganggu jalannya acara yang akan berlangsung

METODE PAWANG HUJAN YANG SAYA LAKUKAN


PAWANG HUJAN
perbuatan pawang hujan adalah suatu "ikhtiar/usaha", soalnya manusia pada hakekatnya tidak punya otoritas sama sekali untuk ikut campur dalam urusan AllohSWT. Sekali lagi pawang merupakan hukum adhi' jadi pada hakekatnya pawang tidak punya kuasa apapun, Sama halnya seorang dokter tidakpunya kuasa apa-apa tentang penyembuhan orang sakit, semua adalah atas kehendak Alloh SWT semata.

Soal setelah di "pawangi" apakah tidak turun atau masih turun hujan,seorang pawang tidak tahu dengan pasti, begitu juga seorang dokter tidak tahu pasti apakah setelah diobati pasiennya sembuh atau tidak, namun "biasanya", sekali lagi "biasanya" kalau sudah dipawangi maka hujannya tidak turun dan "biasanya" kalau diberi obat maka sembuh, ni maknanya hukum adat yang berlaku didunia ini. Padahal bisa saja terjadi walaupun 100 orang pawang berkumpul, ternyata hujannya masih juga turun disitu, ini maknanya pawang itu sebetulnya tidak punya kuasa apa-apa terhadap kekuasaan Alloh SWT.

Pawang hujan bukan menghentikan hujan akan tetapi memindahkan hujan ketempat yang lain seperti : ke gunung, lembah, laut atau hutan karena ada sesuatu hajat atau hujan itu mendatangkan mudharat.

Berdasarkan Hadits diatas dapat diambil kesimpulan secara metoda hikmah:

1.Meneliti terlebih dahulu kondisi langit
2.Hujannya memberi mudharat
3.Memohon kepada Alla
4. Tawassul dan Sholawat atas Nabi Muhammad SAW.
5.Memindahkan hujan pada tempat lain seperti pegunungan, lembah-lembah atau hutan dengan berdoa kepada Allah.

HADIST TENTANG PAWANG HUJAN


Pawang Hujan
Penanya: Seno wahyudi

Asm, Pak ustadz apa hukumnya orang yg percaya pada pawang hujan atau bahkan meminta bantuan untuk memindahkan hujan pada pawang tersebut ??? jazakallah. wassalam.

Jawaban:
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah[30], padahal kamu mengetahui.” (QS Al Baqoroh : 22)
[30]. adalah segala sesuatu yang disembah di samping menyembah Allah seperti berhala-berhala, dewa-dewa, dan sebagainya.

Ass.Wr.Wb

Dalam kehidupan sering kita jumpai seseorang yang mengundang/meminta bantuan pawang hujan untuk memuluskan acara/hajatan yang akan digelarnya, bahkan pernah beberapa waktu lalu salah satu stasiun televisi swata nasional menyajikan sejenis investigasi terhadap profesi ini.

Pawang bahasa lain dari penjinak/pengatur/penakluk/pengendali, dengan demikian pawang hujan berarti orang yang memiliki keahlian untuk mengendalikan hujan baik mendatangkan maupun menolak, menghentikan atau memindahkan ketempat yang dikehendakinya (definition by guswan).

Pada hakikatnya setiap manusia memiliki kemampuan dasar yang sama, jika seseorang melakukan sesuatu diluar kewajaran manusia lainnya berarti ia menggunakan/membutuhkan alat bantu, baik berupa scientific maupun spiritual.

Jika dengan pendekatan scientific hampir bisa dipastikan setiap manusia (beriman maupun tidak) dapat memanfaatkannya cara seperti ini tidak mengapa (boleh). Seperti yang kita saksikan saat ini BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) telah mengembangkan suatu metode membuat hujan buatan dengan menyemprotkan cairan kimia tertentu keudara (tentunya dengan pesawat) yang diharapkan dapat menjadi bibit awan yang berpotensi hujan, sehingga dengan suatu tembakan tertentu bisa dihasilkan hujan, walaupun kemungkinan berhasilnya tidak 100%, namun untuk menolak/menggagalkan/memindahkan hujan sampai saat ini saya belum mengetahui ada teknik yang digunakan oleh para ilmuwan.

Adapun pengendalian hujan berdasarkan pendekatan spiritual, terbagi kedalam dua kelompok, pertama kelompok orang-orang beriman dengan senjatanya do’a dan kelompok orang yang tidak beriman dengan kemampuannya memanfaatkan bantuan Jin.

Tentang kelompok pertama tidak perlu kita bahas detail karena memang sudah ma’ruf bahwa untuk mendatangkan hujan mereka berdo’a dengan sungguuh-sungguh kepada Alloh SWT bahkan dengan sholat Istisqo’ demikian juga untuk menghentikannya mereka mengandalkan keikhlasan do’anya kepada Dzat yang maha Pencipta, ini semua dilakukan berdasarkan pemahamannya bahwa Alloh sajalah yang dapat menurunkan dan menghentikan hujan sebagaimana dijelaskan dalam QS Al Baqoroh : 22 diatas.

" Konon kami tidak melihat gumpalan awan antara kami dan sela-sela gunung Sal'a dan tidak nampak pula awan diatas rumah kami. Tiba-tiba datang gumpalan awan seperti perisai, maka tatkala gumpalan awan tersebut menyebar menutupi sebagian langit maka turunlah hujan. Demi Allah pada hari sabtu kami tidak melihat matahari, kemudian datang seorang pada hari jumat berikutnya untuk menemui Nabi. Tatkala itu Nabi sedang berkhutbah, orang itu mengadu kepada Nabi :" Ya Rasululloh binasalah harta kami dan terputuslah jalan-jalan kami ".Nabi bersabda : " Memohonlah kamu kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat menolak hujan, kemudian Nabi mengangkat kedua tanganNya sambil berdo a: " Ya Allah jadikanlah hujan ini pindah pada sekitar kami jangan jadikan hujan ini untuk kami. Ya Allah pindahkanlah hujan ini diatas gunung, bukit yang lembab, lembah gunung atau tempat tumbuhnya pohon (hutan )".
(HR.Bukhari-Muslim)

METODE PAWANG HUJAN VERSI KH.ABDUL GHOFUR


Sementara ilmu pengetahuan belum dapat menjelaskan cara bekerjanya pawang hujan, metode menangkal hujan yang dilakukan pawang hujan bisa berbeda-beda, begitu pula media perantara yang dibutuhkan. Umumnya para pawang mengalihkan hujan ke tempat lain. Mereka sering melakukan puasa dan berzikir untuk menjaga dan meningkatkan kemampuannya.

Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Drajat di Lamongan, KH Abdul Ghofur mengatakan, ada doa-doanya untuk mendatangkan dan menolak turunnya hujan.

Semua berasal dari doa ajaran Nabi Muhammad SAW. Santri di pondok diajar juga doa-doa ini,” kata KH Ghofur. “Uap dari laut yang kena panas matahari akan naik menjadi sinar laki-laki dan uap air dari penguapan dedaunan menjadi sinar perempuan. Dengan berdoa mengucapkan nama-nama suci Allah, asmaul husna, akan terbentuk sinar lelaki dan sinar perempuan.

“Doa itu mengeluarkan energi, aura, yang bisa difoto dengan kamera aura. Aura yang bersifat feminin akan menjadi hujan, sedangkan aura maskulin akan membubarkan awan hujan. Tergantung doa apa yang diucapkan, energi yang keluar menyertai doa itu akan mendatangkan atau menahan hujan.” ujar KH Ghofur.

ULANG TAHUN NIKITA WILLY MENGANDALKAN PAWANG HUJAN


INILAH.COM, Jakarta - Pesta kejutan HUT ke-15 Nikita Willy benar-benar dibuat spesial oleh ibundanya, Yora. Agar pesta di tempat terbuka ini sukses, Yora menyewa empat pawang hujan. Tujuannya agar acara tak bubar gara-gara hujan.
"Lokasinya out door bagus banget buat pesta kejutan Niki. Lalu pakai empat pawang hujan, mudah-mudahan aja nggak hujan. Soalnya sudah sugesti aja. Semuanya tapi tetap kita serahkan semua sama Tuhan," jelas ibunda Nikita Willy, Yora, saat ditemui di Studio Persari, Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (29/6).
Pesta kejutan HUT ke-15 ini ternyata tak diketahui Nikita. Ia hanya tahu akan ada acara tumpengan bersama tim produksi Nikita.
"Dia tahunya cuma tumpengan aja, bareng sama kru sinetron. Dia nggak tahu kalau pestanya dirayain seperti ini," ungkapnya.
Terlepas dari meriahnya pesta kejutan, Yora sebagai seorang ibu hanya berharap kebaikan bagi puteri tercintanya.
"Alhamdullilah saya dikasih anak yang nggak neko-neko, semua masih terkendali, sekolahnya juga masih bagus. Jadi buat Niki, pesannya cuma tetap dijalurnya ya, jangan kiri-kanan banyak godaan, tetap di belakang mami dan papi," ujarnya. [aji/L1]

PULUHAN KONTRAKTOR DI KISARAN SIAPKAN PAWANG HUJAN KERJA BORONGAN


Kisaran (SIB)
Hujan merupakan kendala utama dalam pengerjaan suatu proyek karena selain waktu pengerjaan yang sempit maka kwalitas pekerjaan juga akan diragukan. Oleh sebab itu kontraktor di Asahan mamfaatkan pawang hujan untuk mengusir hujan dari lokasi proyek dengan tarif 100 ribu hingga 500 ribu per hari.
Salah seorang kontraktor yang dimintai SIB komentarnya Senin (26/11) di Kisaran membenarkan hal tersebut.
Menurutnya pihaknya terpaksa mengeluarkan dana mengatasi persoalan hujan setiap tahun apalagi start pengerjaan proyek di Asahan terlambat akibat adanya persoalan pengumuman pemenang tender. “Bayangkan pengerjaan proyek dimulai Oktober sementara volume curah hujan sangat tinggi,”tegasnya sembari menyebutkan pihaknya terpaksa memakai jasa pawang hujan dengan tarif 100.000 per hari untuk mengusir hujan dari lokasi pekerjaan. Selain membayar jasa pihaknya juga diwajibkan menyiapkan bahan ritual.
Sementara itu Direktur CV Mido Artha Lestari Galasa Silaen kepada SIB menyebutkan bahwa tahun lalu pihaknya juga memanfaatkan jasa pawang hujan ketika melakukan pengerjaan proyek. “Tahun lalu kita pakai hingga 3 orang pawang hujan dengan tarif 500.000 per hari,”ujar Silaen sembari menyebutkan bahwa pemanfaatan jasa pawang hujan tergantung dari jenis pekerjaannya.
Salah satu contoh, ujar Silaen, proyek bess coss jalan sangat bertentangan dengan hujan karena bess coss yang dihampar harus segera digredel. Bayangkan bila bess coss sudah turun di lokasi tiba-tiba hujan turun maka bess cossnya akan berubah jadi bubur dan mengakibatkan kerugian puluhan juta rupiah. Dari pada rugi puluhan juta maka rekanan terlebih dahulu memanggil pawang hujan sebelum menghampar bess coss ke lokasi proyek.
Menurut Silaen pawang hujan tidaklah dipakai oleh rekanan bila waktu pelaksanaan proyek itu sendiri dimulai bulan Maret hingga Agustus.Oleh sebab itu,tegas Silaen, pengesahan APBD Asahan harus dilakukan Desember atau Januari sehingga rekanan tidak harus mengeluarkan dana taktis untuk pawang hujan dan mutu pekerjaan tidak diragukan. (S23/c)

EWES EWES BABLAS UDANE


Musim hujan telah tiba. Sebagian orang yang punya hajatan di musim ini merasa perlu ”berkolaborasi” dengan pawang hujan yang —katanya— bisa menghalau atau memindahkan hujan. Mereka tidak peduli apakah hujan sebenarnya berhenti atas kehendak alam atau atas kehendak sang pawang. Yang penting, wes ewes-ewes … bablas udane.
Mendung tebal menggelayut tepat di atas rumah yang mengadakan hajatan di Karangsatria, Bekasi, akhir Desember 2008. Titik (42), si pemilik rumah sekaligus empunya hajatan, cemas hujan akan turun. Kenyataannya, hujan memang turun.
Namun, beberapa menit kemudian, hujan tiba-tiba berhenti. Langit pun kembali cerah dan matahari yang sedari pagi redup tiba-tiba bersinar terang. Titik pun lega dan hajatan perkawinan adiknya yang dia gelar, berjalan lancar hingga usai.
Bagaimana hujan bisa berhenti mendadak seperti shower yang kerannya ditutup? Mendengar pertanyaan itu, Titik hanya tersenyum. Sambil berbisik dia mengatakan, ”Kami pakai pawang hujan.”
Ini bukan pertama kali keluarga Titik memanfaatkan jasa pawang hujan. ”Sewaktu kakak saya menikah beberapa tahun lalu, kami juga menggunakan jasa pawang untuk berjaga-jaga,” katanya, Selasa (20/1).
Pawang yang Titik gunakan menggunakan metode zikir. Sang pawang meminta tujuh anggota keluarga yang punya hajat untuk berzikir dan berdoa kepada Allah agar menunda hujan. Salah seorang di antaranya harus zikir selama 12 jam nonstop pada malam hari sebelum hajatan berlangsung.
”Tapi, karena orang yang bertugas zikir kali ini ketiduran, hujan pun turun. Untung hanya sebentar,” ujar Titik sambil tertawa.
Gunawan Widjaja (64), kurator pameran seni kriya yang tinggal di Petamburan, Jakarta Pusat, juga menggunakan jasa pawang hujan ketika menggelar resepsi pernikahan putra keduanya di taman Gedung Arsip Nasional, Jalan Hayam Wuruk, tahun 2003.
Waktu itu, mendung tebal menggelayut di atas tempat resepsi. Gunawan sempat khawatir hujan akan turun dan melantakkan pesta taman. Namun, tiba-tiba mendung hilang. Hujan pun urung turun. Tapi, di Harmoni yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari lokasi resepsi, hujan turun dengan derasnya.
Untuk menangkal hujan, Gunawan membayar Rp 1,75 juta. Ternyata, besannya juga menyewa pawang lain dengan biaya Rp 3 juta.
Pawang yang dia sewa tidak memberikan syarat apa pun. Namun, pawang yang dibayar besannya minta disediakan dua rantang nasi dan sebuah payung hitam. Gunawan tidak tahu, pawang yang mana yang kesaktiannya berhasil menyingkirkan hujan hari itu. Yang jelas, dia senang hujan tidak turun hari itu.
Untuk urusan menangkal hujan, sebenarnya Gunawan bisa melakukan sendiri, tapi hanya untuk acara berskala kecil seperti pameran seni. ”Kalau acaranya besar, saya tetap pakai jasa pawang.”
Dia menangkal hujan dengan membalikkan sapu lidi bekas pakai. Di ujung-ujung lidi tadi, dia menancapkan bawang merah dan cabai merah.
Prosedur tetap
Tidak berhenti di momen hajatan, jasa pawang hujan juga digunakan penyelenggara konser musik dan acara luar ruang. Anita Surya, Event Supervisor Prisma - perusahaan konsultan public relation di Jakarta - mengatakan, pihaknya selalu menyediakan anggaran pawang hujan sebesar Rp 1 juta-Rp 2 juta jika menggelar acara luar ruang.
”Itu sudah jadi prosedur tetap. Mau musim hujan atau musim panas, kalau acaranya di luar ruang, kami pasti menyiapkan dana untuk pawang,” ujarnya.
Seniman Jay Subyakto juga selalu meminta bantuan pawang hujan ketika menggelar konser musik. Baginya, hal itu bukanlah klenik. ”Saya hanya percaya, di mana pun kita bekerja, kita mesti minta izin kepada masyarakat setempat dan Tuhan agar acara berjalan lancar,” ujarnya.
Karena itu, Jay tidak sembarangan memilih pawang. Untuk urusan menangkal hujan, Jay lebih suka meminta bantuan tetua setempat. Ketika menggarap pentas Megalitikum Kuantum di Kompleks Garuda Wisnu Kencana, Bali, tahun 2005, Jay ikut puasa dan ritual lain sesuai arahan pedanda setempat.
Setengah percaya
Sejauh mana mereka memercayai ”kesaktian” para pawang hujan? Bagi mereka yang tidak percaya, mungkin mereka akan terbahak-bahak mendengar hujan bisa ditangkal dengan cabai merah dan bawang merah. Itu kan bumbu masak.
”Tapi, kalau saya percaya sebab saya pun biasa melakukannya,” ujar Gunawan.
Jay sulit untuk tidak percaya. Pasalnya, setelah dia mengikuti syarat-syarat tetua, acara Megalitikum yang dia gelar tidak terganggu hujan. Hujan bahkan berhenti satu minggu penuh, padahal ketika itu sudah musimnya.
”Setelah acara selesai dan penonton baru sampai tempat parkir, barulah hujan turun sederas-derasnya,” katanya.
Anita dan Titik mengaku setengah percaya kepada pawang hujan. ”Saya menggunakan jasa pawang sekadar untuk berjaga-jaga. Soalnya ramalan cuaca kan sering meleset,” kata Titik.
Sementara itu, Anita menggunakan jasa pawang sekadar memenuhi prosedur tetap penyenggaraan acara luar ruang yang berlaku di perusahaannya. ”Kalau sampai enggak ada pawang, lalu hujan turun dan acara rusak, gue pasti yang disalahin bos.”
Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Lono Simatupang, menuturkan, karena ramalan cuaca Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang bersifat ilmiah tidak selalu akurat, masyarakat lantas melirik jasa pawang hujan yang akar tradisinya diperkirakan sudah ada di Nusantara sejak zaman pra-Hindu.
Dengan memanfaatkan jasa pawang, bukan berarti orang sekarang tidak percaya ramalan cuaca BMG. Mereka hanya ingin memperbesar kemungkinan untuk mengantisipasi cuaca. Ini bukan sesuatu yang paradoks, tapi saling melengkapi.
Lono mengajak kita untuk melihat pawang hujan sebagai bagian dari kearifan tradisi. Dalam perspektif orang sekarang, tradisi seperti ini memang tidak masuk akal. Maklumlah, tradisi bersandar pada kepekaan rasa, sedangkan ilmu modern bertumpu pada akal.
Masuk akal atau tidak, kenyataannya, pawang dicari-cari di musim hujan. Tentunya pawang hujan, bukan pawang ular. (Ilham Khoiri/ Dahono Fitrianto)
kompas.com

3 PAWANG HUJAN JAGA KAMPANYE PARTAI DEMOKRAT



VIVAnews - Sebanyak tiga pawang hujang meramaikan kampanye Partai Demokrat yang berlangsung di Yogyakarta. Agaknya, Partai Demokrat tidak ingin kampanye yang diguyur hujan di Surabaya terulang lagi.

Pantauan VIVAnews, pawang tersebut melakukan ritual di belakang panggung yang berada di depan Kraton Yogyakarta. Di bawah pohon beringin, diletakkan sesajen seperti pisang sisir, kembang tujuh rupa, kemenyan, dan cabai merah.

Menurut salah seorang pawang, Jawadi, dia hanya meletakkan sesajen. Sementara doa dilakukan di rumah pawang di Imogiri Bantul. "Sesajennya diletakkan di belakang panggung," kata Jawadi di sela kampanye Demokrat, di Yogyakarta, Sabtu 4 April 2009.

Menurutnya, ritual tersebut dilakukan sejak pukul 12.00 dan berlangsung hingga kampanye selesai. Pria yang berprofesi sebagai abdi dalam ini mengungkapkan dia hanya diminta Partai Demokrat sebagai pawang hujan.

Sementara itu, ribuan masayrakat Yogya sudah mulai memadati Alun-alun Utara Yogyakarta. Mereka akan mendengarkan orasi kampanye dari Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

FINAL KAPOLRI GUNAKAN PAWANG HUJAN

Selasa, 16 Juni 2009, 16:26 WIB



Panitia turnamen tenis Piala Kapolri di Jakarta, akan menggunakan pawang hujan khusus laga final pada akhir pekan ini.

"Pawang hujan akan digunakan pada pertandingan final hari Sabtu dan Minggu," kata Ketua Panitia Penyelenggara, Andi Fatmawati Manggabarani di sela-sela turnamen tersebut di Jakarta, Selasa (16/6).

Turnamen pada hari ketiga, Selasa (16/6), sempat tertunda akibat diguyur hujan deras.

"Kita tunda sementara karena hujan," kata Iiek, panggilan akrab Andi Fatmawati.

Para petenis tunggal putra yang sedang berlaga pada babak I itu terpaksa lari meninggalkan lapangan untuk berteduh.

Petenis tunggal putra yang sedang berlaga menjelang hujan itu adalah Eko Prestian melawan Prisca Titan S, Bangun Hartarto menghadapi Reza Amrulloh, dan Anshari Nursida melawan Sandi Sugih Wijaya.

Sebelumnya, tiga pemain tunggal putra berhasil melaju ke babak II, yaitu Wisnu Wijaya mengalahkan Anggi Chan 60-61, Ahmad Mitamir ungguli Sintria Putra 76-61, dan Prihatin menang melawan Ade Anugrah S 62-61.

Turnamen tenis Piala Kapolri ini merupakan yang pertama untuk memeriahkan HUT Bayangkara ke-63.

Sebanyak 63 petenis bertanding dalam turnamen berhadiah total Rp300 juta itu.

Turnamen itu terdiri atas tunggal putra/putri dan ganda putra/ putri.